Antara Pekerja Bangunan dan Pengguna Gedung

15 Sep 2011

Saya beserta tim pengembangan e-procurement seolah-olah sedang membangun sebuah gedung kantor. Ada yang menjadi arsitek, pemasang instalasi listrik, pembuat saluran air, memasang furniture, mengecat tembok, dan ada juga bagian pemasaran yang menawarkan ruang untuk disewakan. Bagi arsitek, gedung tersebut tampak di layar komputernya sebagai miniatur bangunan tiga dimensi lengkap dengan perabotannya. Bagi pemasang instalasi listrik, dia telah memasang kabel sepanjang 10 ribu meter dan 15 ribu sambungan listrik pada bangunan tersebut. Bagi pembuat saluran air, dia telah memasang 5 ribu batang pipa berbagi ukuran dan memasang sekian ribu sambungan pipa pada puluhan lantai. Bagi pengecat tembok, dia telah menghabiskan ribu liter cat untuk mengecat ribuan meter persegi dinding di puluhan lantai.

Setelah bangunan selesai, artinya para pekerja telah menyelesaikan pekerjaannya dan tidak pernah berkantor di sana. Tibalah saatnya berbagai perusahaan dan ribuan orang berkantor di sana. Berbagai komentar muncul untuk gedung tersebut. Ada yang berkata sangat arstisitik, lift-nya bagus, kran airnya bagus, interior mewah, atau toilet yang terlalu sempit. Para pekerja bangunan tadi tidak tahu komentar-komentar membanggakan maupun yang mengkritik atas gedung yang telah mereka kerjakan.

Beberapa hari lalu Pak Invanos berkomentar bawah kita (tim e-procurement) telah membuat terobosan besar untuk sistem pengadaan Indonesia. Bahwa orang tidak lagi membuka koran untuk mencari pengumuman lelang. Bahwa orang tidak lagi diintimidasi untuk memasukkan penawaran lelang. Bahwa melalui e-procurement telah terjadi transaksi 51 trilyun. Kami, sebagai tim pengembangan sendiri belum melihat dari sudut pandang lain selain e-procurement sebagai kumpulan program bahasa Java dan data-data di Database Postgres. Seperti tukang bangunan tadi melihat gedung dari sudut pandang keahliannya.

Saya coba melihat dengan sudut pandang lain. Kasus heboh lelang 6 trilyun bagi kami hanya sebatas teks dan statement if then else. Namun ternyata implikasinya sangat luar biasa. Begitu pula dengan nilai transaksi 31 trilyun dari Januari-Agustus 2011 yang senilai hampir 10% dari pengadaan pemerintah. Belum lagi dengan ribuan orang yang menjadi melek IT maupun puluh orang yang ‘terpaksa’ menjadi ahli Linux. Ini semua merupakan impact dari sistem yang kami terlibat dalam pengembangannya.

Melihat dari sudut pandang yang lain tersebut juga memberikan manfaat tersendiri bagi kami. Keputusan-keputusan tertentu harus dipertimbangkan dengan matang agar tidak memberikan dampak negatif. Pilihan kata harus tepat agar tidak menimbulkan isu bahkan gugatan hukum. Hmmmm…. Kami juga mencoba untuk membuat pilihan-pilihan kata yang tepat pada setiap teks yang kami ketik.


TAGS


-

Author

Follow Me