World Bank E-Learning Series: Framework Agreement

13 Jun 2011

Jum’at lalu merupakan pertemuan ke-6 dari E-Learning Series on E-Procurement. Ada dua topik yang dibahas yakni
1. Framework Agreement
2. Standard & Security in E-Procurement

Poin nomor dua tidak begitu menarik karena LPSE telah menerapkannya. Yang menarik adalah pembahasan tentang Framework Agreement (FA). Indonesia telah memulai penerapan FA pada pengadaan kendaraan bermotor. FA merupakan solusi yang sangat tepat untuk pengadaan yang bersifat rutin dan dalam jumlah besar. FA dapat digunakan untuk pengadaan mobil (seperti yang telah diterapkan), ATK, obat untuk rumah sakit, koneksi internet. FA tidak dapat digunakan untuk pekerjaan konstruksi karena sifatnya sangat spesifik.

Penerapan FA yang tepat dapat mendorong pemerintah mendapatkan harga yang sangat rendah. Pemerintah juga dapat berfungsi sebagai agent of change. Pada presentasi yang dibawakan oleh Joao N Veiga Malta terdapat contoh yang menarik.

UK (United Kingdom) telah memiliki FA untuk pengadaan Hearing Aid (alat bantu dengar) dengan harga 60 poundterling (GBP). Alat ini menggunakan teknologi analog sehingga berukuran besar dan sebagian besar orang tidak mau menggunakannya karena tidak nyaman. Saat ini telah ada Digital Hearing Aid namun dengan harga 800 GBP. Alat ini berukuran kecil dan nyaman digunakan. Daripada membeli alat yang tidak digunakan, pemerintah memutuskan untuk membeli alat Digital Hearing Aid. Pemerintah melakukan negoisasi dengan produsen dan meyakinkan bahwa jumlah alat yang dibelu sangat banyak. Akhirnya produsen dapat menurunkan harga 1/10 nya menjadi 80 GDP dengan jaminan pembelian dari pemerintah.

Wacana seperti kasus di atas sering muncul pada pembahasan e-catalog. Andaikan mobil dinas seluruh instansi pemerintah Kijang Innova, mungkin produsen dapat menurunkan harga 10-15% karena produsen diuntungkan dengan kepastian supply. Dari sisi ini memang mengutungkan kedua pihak namun isu lain muncul; yakni monopoli.

Ada 4 hal yang sangat penting dalam penyusunan FA, yakni: planning, planning, planning, dan planning. Artinya, perencanaan merupakan kunci dari FA. Jika perencanaan salah maka dapat menimbulkan efek yang fatal seperti contoh di suatu negara. Tidak seperti Indonesia yang memiliki hanya satu jenis Pom bensin (yakni Pertamina, kecuali di beberapa kota besar). Di negara tersebut ada banyak pom bensin dari perusahaan yang berbeda. Harga beli bensin juga berbeda antara satu dan lainnya. Pemerintah kota setempat mengadakan lelang untuk menentukan satu perusahaan pom bensin yang akan menyuplai kendaraan-kendaraan dinas pemkot. Lelang tersebut akan menghasilkan framework agreement antara perusahaan dengan pemkot. FA yang dibuat memang menghasilkan harga bensin paling murah. Namun sayangnya, pom bensin yang menang tender berada di luar kota tersebut. Secara keseluruhan, pengeluaran pemerintah akan naik karena adanya ongkos untuk pergi ke luar kota hanya untuk membeli bensin. Belum lagi waktu yang terbuang untuk hal ini.


TAGS


-

Author

Follow Me