Sharing Dengan Detik.com

12 May 2011

Beberapa waktu lalu saya mengundang Direktur IT Detikcom, yang kebetulan rekan kuliah saya di ITS. Dia saya undang untuk sharing pengalaman tentang pengelolaan IT di kantornya. Meskipun sama-sama sebagai IT Service Provider, namun DetikCom dan Direktorat E-Procurement LKPP memiliki perbedaan mendasar. Namun demikian, banyak pelajaran yang bisa diambil dari sesi sharing tersebut. Semoga pada acara rakor LPSE Nasional 7-9 Juni nanti saya dapat mengundangnya agar dapat memberikan pencerahan kepada pengelola LPSE seindonesia.

Berikut ini beberapa catatan penting saya.

Mirroring & Load Balancing

Untuk menangani load jutaan hit per hari atau ratusan ribu hit per detik, DetikCom mesti memiliki server yang cukup banyak. Beban request akan didistribusikan ke server-server tersebut. Hal ini juga berlaku di Google.com yang konon memiliki belasan ribu server tersebar di seluruh dunia.

Hit di setiap server LPSE tidak akan mencapai ratusan ribu, apalagi jutaan seperti Detik.Com. LPSE harus memiliki sistem mirroring untuk jaga-jaga jika terjadi kegagalan hardware. Paling tidak, setiap situs LPSE harus memiliki minimal 2 server primary dan secondary.

Free & Open Source Software (FOSS)

Bahkan Google.com pun menggunakan Linux sebagai basis sistem operasi mereka (dengan modifikasi habis-habisan untuk mendapat performa terbaik). Penggunaan FOSS juga telah memangkas belanja modal bagi semua perusahaan. Sama dengan LPSE, Detik.Com juga mengandalkan FOSS untuk operasional mereka. WebServer yang digunakan adalah nginx (dapat dilihat dari Http Response Header) dan sudah pasti di atas Linux.

Sumber Daya Manusia

Ini hal yang paling sulit untuk dikelola. Setiap perusahaan memiliki cara tersendiri untuk mengelola SDM-nya. Apa yang disampaikan rekan saya tersebut ternyata tidak bisa diterapkan di pemerintahan. Padahal, seperti kita ketahui, SDM IT memiliki stok terbatas sementara demand yang masih besar. Mekanisme pasar yang berlangsung adalah siapa yang dapat memberikan gaji kompetitif maka akan mendapatkan SDM IT yang berkualitas lebih. Di sini pemerintahan tidak dapat ‘bersaing’ dengan sektor swasta.

Ketika load pekerjaan bertambah, pemerintahan tidak dapat serta merta merekrut pegawai negeri baru. Kalaupun merekrut, cukup panjang prosedur yang harus dilalui. Dan sayangnya, ketika pemerintah membuka lowongan kerja, peminat untuk bidang IT sangat minim. Mungkin ini tidak berlaku di Kementerian Keuangan yang telah menerapkan renumerasi gaji sehingga menarik bagi para pencari kerja.

Budaya Kerja

Orang IT cenderung memiliki karakter yang unik. Begitu pula dengan budaya kerja. Di banyak perusahaan kelas dunia semacam Google, pegawai dapat bekerja dengan kaos oblong, celana jeans. Absensi pun tidak mereka kenal karena banyak orang IT menganggap pekerjaan mereka sebagai hobi.

Orang IT lebih banyak bekerja di saat orang lain sedang tidak bekerja. Pemeliharaan jaringan, upgrade server, instalasi aplikasi misalnya, harus dilakukan di malam hari atau di hari libur ketika pengguna sistem berkurang.

Budaya ini yang menjadi tantangan sendiri bagi pemerintahan. Mengubah mind set dan budaya ini merupakan pekerjaan yang berat.


TAGS


-

Author

Follow Me