Mafia Proyek

18 Nov 2010

Ada satu cerita tentang ‘kejamnya’ mafia proyek. Saya rasa ini juga terjadi di tempat-tempat lain. Sebuah perusahaan memiliki produk atau sistem yang merupakan hasil inovasinya. Hal yang lumrah jika sistem tersebut ditawarkan ke instansi-instansi yang memerlukan. Karena merupakan invonasi baru maka tidak akan ada perusahaan lain yang memiliki produk sejenis. Kalaupun ada mungkin memiliki perbedaan yang cukup banyak.

Setelah presentasi dan instansi tersebut merasa perlu terhadap produk tersebut maka akan dilakukan lelang umum karena prosedurnya memang harus demikian. Namun anehnya, pada lelang tersebut muncul perusahaan lain dengan proposal yang sama persis. Rupa-rupanya, perusahaan tersebut merupakan makelar proyek yang menguasai instansi tersebut. Kemungkinan besar panitia pengadaan juga ‘bermain’ dengan makelar.

Walhasil, makelar akan menang meskipun dia tidak memiliki apa-apa. Makelar akan menhubungi pemilik produk yang sebenarnya. Nah di sinilah terjadi adu kuat. Jika mempertimbangkan realitas, si pemilik produk dengan terpaksa akan menjadi pelaksana pekerjaan atas nama makelar tersebut. Tentu saja uang yang diterima si pemilik produk akan sangat jauh di bawah angka sebenarnya karena makelar harus ‘membayar’ upeti. Dapat saja pemilik produk untuk menolak pekerjaan dari makelar, namun secara realitas dia juga harus membiayai operasional perusahaan.

Konon kabarnya, proyek-proyek semacam ini sangat banyak terjadi di instansi militer.Penerapan e-procurement dapat meninimalisir terjadinya praktek semacam ini. Silakan membaca posting saya sebelumnya tentang arisan.


TAGS


-

Author

Follow Me