Kerikil: Demo di LPSE Jawa Barat

18 Feb 2010

Tanggal 16 Februari 2010, LPSE Jawa Barat didemo kelompok yang menamakan Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI). Mereka menentang penerapan LPSE karena tidak memberi kesempatan kepada pengusaha kecil untuk mengikuti tender.

Demo? Hal yang lumrah terjadi di era keterbukaan seperti sekarang. Namun siapa sebenarnya yang “dirugikan” oleh adanya LPSE? Apakah benar pengusaha kecil?

Jika ditelaah proses tender yang berlangsung secara konvensional, kecurangan terjadi karena proses pengadaan yang tertutup atau ditutup-tutupi. Panitia berusaha mencari cara sedemikian rupa sehingga pengumuman dan atau dokumen lelang tidak biasa diperoleh dengan mudah. Pada akhirnya, hanya orang-orang tertentu yang mengikuti lelang.

Adanya LPSE membuat informasi pengumuman dapat diakses oleh siapa saja dan kapan saja. Panitia tidak dapat menyembunyikannya. Dokumen lelang pun dapat diperoleh semua penyedia yang berminat mengikuti. Proses lelang berlangsung secara transparan. Pemenang lelang dan nilai kontrak juga dapat diketahui oleh publik.

Tidak ada korelasi antara pengusaha besar/kecil dengan kesempatan mengikuti lelang. Memang untuk mengikuti lelang melalui LPSE perlu sedikit tambahan kemampuan mengoperasikan komputer. Namun di jaman sekarang, tidak masuk akan jika pengusaha tidak bisa mengoperasikan komputer. Pada lelang konvensional pun mereka mengetik dokumen juga dengan komputer. LPSE telah membuka kesempatan training pengoperasian sistem LPSE tanpa pandang bulu. Ingat, pengelola LPSE bukan panitia lelang dan tidak terlibat dalam proses lelang.

Kepada para pengelola LPSE lain, tidak usah khawatir. Isu-isu yang diangkat untuk menentang LPSE tidak memiliki dasar yang kuat.


TAGS Peserta panitia Menentang


-

Author

Follow Me