Mengapa LPSE Berbasis Free License?

12 Nov 2009

Banyak orang, terutama swasta, mempertanyakan mengapa LPSE menggunakan database Postgres? Ada juga yang tidak mengenal Postgres itu apa. Mengapa tidak menggunakan Oracle 10g yang canggih? Mengapa tidak menggunakan MS SQL Server? Bagaimana dengan support Postgres? Pertanyaan-pertanyaan ini wajar disampaikan mengingat mereka berangkat dari lingkungan swasta yang sangat familiar dengan Oracle, DB2, MS SQL, atau paling tidak My SQL.

Alasan kami memilih Postgres dan software-software pendukung LPSE yang FOSS (Free and Open Source Software) cukup sederhana. E-proc dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi,untuk itu, pengembangan dan penggunaannya juga harus efisien. LPSE diimplementasikan dengan konsep terdesentralisasi (tidak terpusat) sehingga akan terdapat puluhan hingga ratusan server LPSE (alasan mengapa menggunakan konsep terdesentralisasi akan dibahas di bagian lain).

Sebagai ilustrasi, sistem eproc yang dikembangkan oleh salah satu departemen menggunakan database Oracle dan Windows Server 2003. Jika satu server menggunakan satu prosesor Intel 4 core dan Oracle Standard Editon One (edisi paling murah) memerlukan biaya 11.600 USD.

Software Harga (USD)
Oracle Standard Edition One 11.600
Windows Server 2003
(2 server)
1.998
Total 13.598

Total biaya lisensi minimum untuk satu situs eproc dengan 2 server (aplikasi dan database) memerlukan sekitar 130 juta rupiah. Pada akhir 2009 ini, telah berdiri 30 situs LPSE. Jika seluruhnya menggunakan software berlisensi maka memerlukan minimal 3,9 milyar rupiah. Di Indonesia terdapat lebih dari 500 instansi. Jika semuanya menggunakan menggunakan lisensi seperti di atas maka akan memerlukan 65 milyar. Angka di atas akan membengkak jika harus menghitung pula biaya support.

Selain masalah biaya, hal lain yang menjadi pertimbangan kami memilih FOSS adalah:

  1. Mendukung program IGOS (Indonesia Goes Open Source) dan meningkatkan penetrasi FOSS di Indonesia.
  2. Kemampuan anggaran instansi pemerintah dan pemerintah daerah sangat beragam. Ada yang PADnya beberapa trilyun dan ada yang hanya belasan milyar. Sebagai contoh, jika Kabupaten Banjarbaru yang memiliki PAD 23,25 milyar diharuskan membeli lisensi sebesar 130 juta, mungkin akan keberatan. Implementasi LPSE diharapkan dapat dilakukan dengan biaya seminimal mungkin. Kami tidak ingin antusiasme dan semangat untuk implementasi e-proc terganjal oleh biaya yang sebenarnya bisa dihindari.
  3. FOSS telah terbukti handal dan banyak digunakan sehingga layak untuk dipilih. Market share Apache Web Server mencapai 47% (November 2009) menurut Netcraf.
  4. PostgreSQL dipilih karena merupakan database FOSS yang memiliki fitur terbaik. Pada saat sistem LPSE dikembangkan, mySQL versi 5 yang memiliki integrity constraint belum dirilis. Volume data yang disimpan ada sistem LPSE tidak terlalu besar karena terdesentralisasi di banyak tempat, begitu pula dengan volume transaksi. PostgreSQL mampu menangani volume transaksi tersebut.


TAGS Open Source


-

Author

Follow Me