Teknis Interkoneksi Data LPSE (2): Konsep

28 May 2009

Konsep Dasar

Konsep dasar interkoneksi data LPSE adalah

  1. Penyedia barang/jasa yang terdaftar di LPSE A dapat mengikuti lelang di LPSE B tanpa mendaftar ulang di LPSE B.
  2. Data penyedia yang telah dimasukkan di LPSE A dapat digunakan di LPSE B tanpa mengisi ulang.
  3. Data penyedia yang dimasukkan untuk lelang di LPSE B dapat digunakan untuk lelang di LPSE A.
  4. Interkoneksi antara LPSE A dan B melalui protokol HTTP/HTTPS.

Fakta dan Batasan

  1. Tidak semua penyedia di LPSE A akan mengikuti lelang di LPSE lain. Di ibu kota provinsi, jika ada lebih dari 1 LPSE, sekitar 70% penyedia akan mengikuti lelang di LPSE yang berada di kota tersebut.
  2. Kurang dari 5% penyedia yang terdaftar di sebuah LPSE akan mengikuti lelang pada LPSE di luar kota.
  3. LPSE A independen terhadap LPSE B dan tidak memiliki hubungan instruksional. Masing-masing LPSE memiliki hubungan koordinatif yang longgar. Hal ini disebabkan masing-masing LPSE berada di bawah institusi pemerintahan (provinsi, kementerian, kota, kabupaten).
    Sebagai contoh, LPSE A telah terinterkoneksi dengan LPSE B. Penyedia X terdaftar di LPSE A dan sedang mengikuti lelang di LPSE B. Pada saat lelang berlangsung, LPSE B memerlukan data dari LPSE A. Jika pada saat itu LPSE A tidak bisa memberikan data (karena server atau internet down) maka LPSE B tidak bisa menginstruksikan LPSE A untuk mengaktifkan layanannya. Begitu juga seandainya LPSE A menghentikan operasinya, LPSE B tidak bisa berbuat apa-apa.

Batasan nomor 3 sangat penting dalam menentukan desain arsitektur. Dengan adanya interkoneksi ini, jangan sampai resource sebuah LPSE menjadi terganggu hanya untuk melayani LPSE lain. Hal ini menjadi masalah penting mengingat resource berupa bandwidth cukup mahal. Di samping itu, kewenangan dan tanggung jawab instansi terkait erat dengan prinsip otonomi daerah.


TAGS


-

Author

Follow Me